Jangan merokok di tempat umum!

| 4 komentar

Sudah saatnya orang-orang yang tidak merokok menikmati udara yang bebas asap rokok. Ini yang mesti disadari oleh para perokok. Mereka harus menghormati orang lain untuk tidak menghirup asap rokok yang perokok hasilkan. Yang tidak suka merokok kebanyakan tidak melarang mereka para perokok untuk merokok, asal tidak mengganggu yang lain. Bagaimana caranya? Ya di tempat-tempat yang terisolasi dong.

Kalau dipikir secara sehat, apa sih untungnya merokok? Tidak ada! Yang ada malah merugikan diri sendiri dan juga orang lain disekitarnya. Ini namanya bagi-bagi penyakit! Sesuatu hal yang dapat membahayakan dirinya apalagi orang lain, termasuk dalam kategori yang dilarang dalam Islam.

Secara medis sudah terbukti bahwa rokok membahayakan manusia. Dari yang sekedar menimbulkan bau mulut dan badan, sampai dengan paru-paru yang rusak. Serta penyakit turunan lainnya yang ditimbulkan asap rokok ini.

Oleh sebab itu, mengapa harus merokok kalau kita bisa menghentikannya. Kita sudah tahu bahayanya, membuang uang secara percuma. Hasil kerja kita menjadi sia-sia tatkala kita merokok. Orang yang berakal sehat tentunya tidak mau merokok walaupun sebatang, sebab itu tidak sehat. Jadi, orang yang merokok itu akalnya tidak sehat. It is right? Just thinking!

Harta yang Terbesar

Seringkali orang mengidentikkan harta terbesar itu mempunyai kekayaan yang banyak. Baik berupa emas, perhiasan, kendaraan, rumah, dan sebagainya. Padahal semua kekayaan tersebut merupakan bagian luar dari harta yang terbesar. Harta yang melimpah tidak menjamin kebahagiaan, keselamatan, kesehatan terhadap diri kita. Juga tidak akan mungkin bisa kita nikmati semuanya sampai habis.
Orang selalu berpikir apa yang ada di luar diri kita, yang terlihat dan terasa oleh indera kita, itulah harta. Kita tidak menyadari bahwa “diri” kita merupakan harta. Dan harta yang terbesar terletak pada “pikiran” kita. Dengan segala yang ada pada diri kita, segala bentuk kekayaan dapat terbentuk.
Manusia yang selalu berpikir, akan leluasa membentuk diri dan lingkungannya. Manusia telah diciptakan dengan sempurna, mengapa kita tidak bisa mengaktualisasikan kesempurnaan tersebut baik untuk diri maupun lingkungan. Jangan hanya menjadi lilin yang mampu menerangi tetapi akan habis. Jadilah cahaya tak pernah padam, yang mampu menerangi diri dan orang lain.
Untuk itu, selalu ingatkan diri kita bahwa “Pikiran kita adalah harta terbesar yang memenuhi kesempurnaan manusia”

Pemimpin yang tuli, bisu dan buta

Kriteria pemimpin yang terlupakan : bisa melihat, mendengar dan berbicara. Pemilihan pemimpin selama ini cenderung hanya berdasarkan harta, pangkat, kepintaran semata. Pokok hal yang utama dilupakan, moralitas pemimpin. Pemimpin yang bermoral minus akan membuat rakyat negeri yang dipimpinnya semakin sengsara. Kesejahteraan hanya menjadi konsep, sangat jauh dari realitas.
Pemimpin yang buta adalah karena mereka tidak bisa melihat penderitaan rakyat. Mereka hanya bisa melihat kemewahan yang ada disekitarnya. Mereka membutakan mata mereka sendiri dengan realitas masyarakat yang sengsara.
Tuli karena mereka tak mau mendengarkan keluhan rakyat yang dipimpinnya. Mereka hanya mendengarkan kata hati mereka yang selalu dianggap benar. Ego mereka terlalu besar untuk menjadi pemimpin.
Bisu, tatkala mereka tak mampu berkata-kata ketika penderitaan rakyat semakin parah. Mereka hanya diam dan menjauh begitu saja tanpa memberikan bantuan dan harapan kepada yang menderita.
Figur pemimpin yang adil semakin sulit untuk ditemukan. Sebab, mereka dipilih bukan dengan menunjuk dada mereka sendiri dan berkata, “Saya mampu memimpin negeri ini, Saya mampu mensejahterakan rakyat negeri ini!”
Coba Anda renungkan, pemimpin seperti apa yang adil itu?

Demokrasi "pemecah rakyat"

Kehidupan demokrasi yang didengungkan pihak Barat ternyata hanya sebuah system pemecah rakyat. Masyarakat kita yang terkenal dengan segala kebaikannya, kini menjadi terpecah, terkotak-kotak oleh golongan, ideology dan komunitas. Bangsa ini yang sedari dulu lebih mengedepankan musyawarah dalam setiap permasalahan, kini menjadi keras kepala, egois, ingin menang sendiri, merasa benar, dsb. Apalagi dalam menghadapi pemilihan pemimpin di daerah-daerah, banyak perpecahan yang terjadi. Perebutan kursi pemerintahan menjadi hal yang biasa di negeri ini. Seringkali perebutan itu disertai dengan kekerasan.
Apakah demokrasi seperti ini yang diinginkan oleh rakyat? Rakyat yang mestinya bersatu padu membangun negeri ini, malah dipecah belah oleh demokrasi ala Barat. Para pemimpin mestinya sadar bahwa kursi yang mereka duduki merupakan jalan tercepat menuju neraka. Sebab tanggungjawab mereka sangat besar terhadap kesejahteraan dan keadilan bagi jutaan orang.
Oleh sebab itu ada baiknya demokrasi tidak tergantung pada keadaan menang atau kalah, tetapi bagaimana kita bisa membangun negeri ini menjadi lebih baik bagi seluruh rakyat.

Ayat-ayat Cinta

Silakan Anda mengukur kadar cinta terhadap manusia atau Islam?



Backlinks
Buka Mulut  • Jennie S. Bev  • Gilardhie  • Lupuzz  • Nebula  • LadyElen  • Spectre  • Edittag  • Kolom Tutorial  • Rini  • Solusi Bisnis Indonesia  • Komering  • Red Eagle  • Life by your hand  • Bang Dhika  • Tukeran Link  • Business Solution  • Afrid  • Aroengbinang  • Cosa Aranda  • Deni  • Rizkie Eka Putra  • Liezmaya  • El Kalam  • Ochim  • Ashock  • Kimyong  • Rezana Ilham  • Rizki Ekaputra  • Remix Station  • Andi  • Selera Nusantara  • Pro @ Life  • Tarakan Bais  • Whylink  • Melina  • Cassava  • Digithalia